Powered By Blogger

Minggu, 10 November 2024

Kepemimpinan Murid

Dengan filosofi dan metafora "menumbuhkan padi," Ki Hajar Dewantara mengingatkan kita bahwa untuk mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, diperlukan upaya sadar dan terencana dalam membangun ekosistem yang mendukung pembelajaran murid agar mereka dapat berkembang sesuai kodratnya. Oleh karena itu, dalam merancang program atau kegiatan pembelajaran di sekolah, baik itu intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler, hendaknya murid menjadi pertimbangan utama. Pertanyaannya kemudian, sejauh mana kita dapat melibatkan murid dalam pengambilan keputusan terkait program atau kegiatan pembelajaran tersebut?

Kita tentu sepakat bahwa murid memiliki kemampuan yang lebih dari sekadar mengikuti instruksi guru. Secara alami, mereka adalah pengamat, penjelajah, penanya, dengan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap berbagai hal. Melalui rasa ingin tahu ini, serta interaksi dan pengalaman mereka dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya, mereka membangun pemahaman tentang diri mereka, orang lain, dan dunia secara lebih luas. Dengan kata lain, murid memiliki kemampuan untuk berperan aktif dalam proses belajar mereka sendiri.

Namun, apakah kita pernah melakukan refleksi dan menyadari bahwa terkadang kita sebagai pendidik memperlakukan murid seolah-olah mereka tidak mampu membuat keputusan atau menyampaikan pendapat mengenai proses pembelajaran mereka? Sering kali, tanpa sadar kita membiarkan murid menjadi pasif dengan secara sepihak menentukan apa yang mereka pelajari dan bagaimana mereka mempelajarinya, tanpa melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan.

Agar murid dapat menjadi pemimpin bagi proses pembelajaran mereka sendiri, kita perlu memberi mereka kesempatan untuk mengembangkan kapasitas dalam mengelola pembelajaran mereka, sehingga potensi kepemimpinan mereka dapat berkembang secara optimal.

Peran kita adalah sebagai berikut:

  1. Mendampingi murid agar potensi kepemimpinan mereka berkembang sesuai kodrat, konteks, dan kebutuhan mereka.
  2. Mengurangi kontrol yang kita berikan.

Saat murid memiliki kendali atas apa yang terjadi atau merasa bahwa mereka dapat memengaruhi situasi, mereka memiliki apa yang disebut “agency.” Agency adalah kapasitas seseorang untuk memengaruhi fungsi diri dan arah kehidupannya melalui tindakan yang diambilnya. Albert Bandura dalam artikelnya, Toward a Psychology of Human Agency (2006), menyatakan bahwa menjadi seorang agent (seseorang yang memiliki agency) berarti orang tersebut secara sadar memengaruhi fungsi dan kondisi hidupnya. Dalam pandangan ini, pengaruh pribadi adalah bagian dari struktur kausal; individu mampu mengatur diri, proaktif, meregulasi diri, dan melakukan refleksi. Mereka tidak hanya sebagai penonton atas perilaku mereka sendiri tetapi juga sebagai kontributor atas keadaan hidup mereka.


Ivar

Selain itu, dalam artikel yang sama, Bandura juga menyebutkan empat sifat utama dari human agency, yang dalam modul ini disingkat menjadi akronim IVAR untuk memudahkan pengingatan, yaitu:

I - Intensi = Kesengajaan (intentionality). Seseorang yang memiliki agency tidak hanya sekadar memiliki niat, tetapi juga mencakup rencana tindakan dan strategi untuk mencapainya. Mereka yang memiliki agency memahami pentingnya mempertimbangkan keinginan pihak lain dalam merealisasikan niatnya, sehingga berusaha mencapai niat bersama dan mengelola ketergantungan rencana.

V - Visi = Pemikiran ke depan (forethought). Pemikiran ke depan bukan sekadar rencana untuk masa depan; mereka yang berpikir ke depan menggunakan visi (gambaran mental tentang masa depan) sebagai panduan yang memotivasi tindakan mereka saat ini, menjadikan mereka individu yang bersemangat dan memiliki tujuan.

A - Aksi = Kereaktifan-diri (self-reactiveness). Mereka yang memiliki agency bukan hanya perencana dan pemikir ke depan; mereka juga memiliki kemampuan pengendalian diri (self-regulation). Setelah memiliki niat dan rencana, mereka tidak tinggal diam tetapi menciptakan tindakan yang tepat dan mengatur eksekusinya dengan baik.

R - Refleksi = Kereflektifan-diri (self-reflectiveness). Individu yang memiliki agency memiliki kesadaran diri yang tinggi terhadap fungsi dirinya. Mereka melakukan refleksi untuk menilai efikasi diri, ketepatan pikiran, kualitas tindakan, serta relevansi dari usaha mereka dalam mencapai tujuan. Sifat metakognitif untuk melakukan refleksi dan mengevaluasi kecukupan pemikiran dan tindakan ini adalah ciri khas orang yang memiliki agency.


Istilah Student Agency

Karena kata agency belum memiliki padanan yang sesuai dalam bahasa Indonesia, untuk keperluan modul ini istilah student agency akan diterjemahkan sebagai "kepemimpinan murid."

Murid menunjukkan student agency saat mereka mampu mengelola pembelajaran mereka sendiri, mengambil keputusan, menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan dan menunjukkan rasa ingin tahu, berperan aktif dan berkontribusi dalam komunitas belajar, menyampaikan pemahaman mereka kepada orang lain, serta melakukan tindakan nyata sebagai hasil dari proses pembelajaran yang mereka jalani.


Student Agency OECD

Menurut OECD (2019:5), konsep 'kepemimpinan murid' terkait dengan penguatan identitas dan rasa kepemilikan dalam diri murid. Ketika murid membangun kemampuan agen diri (agency), mereka memanfaatkan motivasi, harapan, efikasi diri, serta pola pikir berkembang (growth mindset)—yakni pemahaman bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat dikembangkan—untuk mencapai kesejahteraan fisik dan mental. Hal ini memungkinkan murid untuk bertindak dengan tujuan yang jelas, membantu mereka tumbuh di lingkungan sosial mereka.

Kepemimpinan murid berakar pada keyakinan bahwa murid mampu dan terdorong untuk memengaruhi kehidupan mereka sendiri dan masyarakat di sekitarnya secara positif. Kepemimpinan ini melibatkan kemampuan untuk menetapkan tujuan, merefleksikan tindakan, dan berperilaku secara bertanggung jawab demi menciptakan perubahan. Kepemimpinan murid berarti murid aktif mengambil keputusan dan membuat pilihan yang bertanggung jawab, tidak sekadar menerima keputusan dari pihak lain. Ketika murid memiliki agency dalam pembelajaran, mereka menjadi lebih terlibat dalam menentukan apa dan bagaimana mereka belajar, sehingga motivasi belajar mereka meningkat, dan mereka dapat menetapkan tujuan pembelajaran mereka sendiri. Melalui proses ini, murid-murid akan secara alami mengembangkan keterampilan belajar yang akan mereka manfaatkan sepanjang hidup mereka.

Ketika murid berperan sebagai pemimpin dan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran mereka, hubungan antara guru dan murid bertransformasi menjadi kemitraan. Dalam hubungan kemitraan ini, murid yang belajar akan:

  • memahami tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
  • menunjukkan partisipasi aktif dalam proses belajar
  • menanggung tanggung jawab dalam pembelajaran mereka
  • menumbuhkan rasa ingin tahu
  • mengambil inisiatif
  • membuat pilihan-pilihan yang tepat
  • memberikan umpan balik kepada teman-teman sekelas.

Sementara itu, guru yang berperan sebagai mitra akan:

  • mendengarkan, menghormati, dan merespons ide, opini, serta aspirasi murid secara aktif
  • memperhatikan kemampuan, kebutuhan, dan minat murid untuk menyesuaikan proses belajar
  • mendukung eksplorasi minat murid dengan memberikan tugas terbuka
  • memberi kesempatan kepada murid untuk mengekspresikan kreativitas dan mengambil risiko
  • mempertimbangkan tingkat bantuan yang diperlukan murid berdasarkan informasi yang ada
  • menunjukkan ketertarikan dan minat dalam mendengarkan setiap aktivitas murid untuk memperluas wawasan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Unggulan

SEHATI (Sekolah Bersih dan Indah Tangging Jawab Kita)

 

Paling Populer