Powered By Blogger

Minggu, 10 November 2024

Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid

 

Ketika murid memimpin proses pembelajaran mereka sendiri (atau dengan kata lain, saat mereka memiliki agency), mereka sesungguhnya memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam perjalanan belajarnya. Melalui suara, pilihan, dan kepemilikan ini, murid membangun kapasitas untuk menjadi pemilik sejati dari proses belajarnya sendiri. Peran kita sebagai guru hanyalah menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid merasa memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan atas apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan, cara mereka melaksanakan niat tersebut, dan bagaimana mereka merefleksikan tindakannya.

Apa yang dimaksud dengan suara, pilihan, dan kepemilikan murid ini? Mari kita ulas satu per satu aspek tersebut.

1. Suara

Ketika kita membicarakan tentang "suara" murid, yang dimaksud bukan sekadar memberikan mereka kesempatan untuk menyampaikan ide atau pendapat.

Voice atau suara murid melibatkan pandangan, perhatian, dan gagasan mereka yang terwujud melalui partisipasi aktif dalam kelas, sekolah, komunitas, dan sistem pendidikan mereka, yang membantu membentuk proses pengambilan keputusan serta mempengaruhi hasil secara bersama-sama (sumber: www.education.vic.gov.au).

Menghargai suara murid berarti memberdayakan mereka untuk memiliki kekuatan dalam menciptakan perubahan. Suara murid yang autentik memungkinkan mereka untuk berkolaborasi dan membuat keputusan bersama dengan orang dewasa terkait apa yang dipelajari, bagaimana mereka belajar, dan bagaimana hasilnya dinilai.

Mendorong suara murid dalam proses belajar dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Suara murid dapat dibangun melalui diskusi, membuka ruang untuk ekspresi kreatif, berbagi pendapat, mempersonalisasi pengalaman belajar, dan sebagainya. Berikut beberapa contoh bagaimana sekolah atau guru dapat mendukung "suara murid":

  • Membangun budaya saling mendengarkan.
  • Mendorong kepercayaan diri murid agar setiap suara dianggap penting dan berharga.
  • Melibatkan murid dalam evaluasi proses pembelajaran yang telah berlangsung.
  • Meminta masukan dari murid tentang program dan kebijakan sekolah.
  • Melibatkan murid dalam perencanaan pembelajaran.
  • Melibatkan mereka dalam penyusunan kriteria penilaian.
  • Memberi ruang bagi murid untuk bertanya, berpendapat, dan berdiskusi dalam berbagai kesempatan belajar.
  • Mengajak murid mendiskusikan dan menyepakati nilai-nilai dan peraturan kelas.
  • Membentuk dewan murid atau komite murid untuk memberikan masukan kepada sekolah tentang berbagai aspek, seperti fasilitas, kegiatan, kantin, atau seragam.
  • Memberikan kesempatan murid untuk memberi masukan tentang alat bermain atau fasilitas halaman sekolah.
  • Memfasilitasi saran terkait menu kantin yang dijual.
  • Membuat kotak saran untuk masukan dari murid tentang sekolah.
  • Mengadakan pembelajaran berbasis proyek, di mana murid mengidentifikasi masalah nyata yang menarik minat mereka, dan berkolaborasi mencari solusi.
  • Menyediakan blog murid atau majalah dinding sebagai media ekspresi dan kreativitas mereka.

Guru dapat memotivasi dan memberikan "pilihan" kepada murid melalui berbagai aktivitas lain. Silakan Ibu/Bapak menggali lebih banyak inspirasi atau contoh lain untuk mendukung inisiatif ini!


2. Pilihan

Pilihan (choice) adalah kesempatan yang diberikan kepada murid untuk menentukan berbagai opsi di ranah sosial, lingkungan, dan pembelajaran (marzanoacademies.org). Di ranah sosial, murid bisa memilih untuk bergabung dengan kelompok yang sesuai dengan minat atau tujuannya; di ranah lingkungan, mereka bisa memilih atau mengatur lokasi belajar yang mereka anggap paling kondusif. Sementara dalam pembelajaran, murid diberi opsi untuk mengakses materi, berlatih, atau menunjukkan pemahaman serta keterampilan mereka sesuai kurikulum.

Aiken et al. (2016) dalam Thibodeaux et al. (2019) mengemukakan bahwa pemberian pilihan pada murid dapat memberdayakan, meningkatkan partisipasi, dan memicu ketertarikan pada pengalaman belajar. Memberikan pilihan serta kepemilikan kepada murid mengharuskan adanya pengalihan sebagian kontrol pembelajaran kepada mereka (Thibodeaux, 2017; 2019).

Bandura (1997) juga menyatakan bahwa pemberian pilihan ini dapat meningkatkan motivasi dan otonomi murid, yang berdampak positif pada efikasi diri serta motivasi mereka (Thibodeaux et al., 2019).

Bagaimana guru dapat memberikan pilihan kepada murid dalam proses belajar? Berikut adalah beberapa contohnya:

  • Mengajarkan murid bahwa selalu ada berbagai opsi untuk dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan.
  • Membuka kesempatan bagi murid untuk memilih cara mereka menunjukkan pemahaman atas materi yang dipelajari.
  • Memberikan opsi kepada murid untuk menentukan peran mereka dalam suatu kegiatan atau program.
  • Membiarkan murid memilih kelompok belajar mereka.
  • Memberi kesempatan bagi murid untuk mengatur pengelolaan kegiatan yang mereka ikuti.
  • Menggunakan musyawarah atau voting untuk menentukan langkah atau aktivitas selanjutnya. Misalnya, ketika menentukan topik tertentu, guru dapat mendiskusikan opsi kegiatan bersama murid dan meminta mereka memilih.
  • Mengajak OSIS menyusun daftar kegiatan dan memberi kesempatan bagi murid untuk memilih kegiatan apa saja yang ingin diadakan dalam satu tahun ajaran.
  • Memungkinkan murid memilih jenis tugas yang mereka anggap paling menarik.
  • Memberi mereka kebebasan dalam mempresentasikan hasil karya sesuai gaya, minat, dan bakat.
  • Mengizinkan murid mencari sumber belajar yang sesuai dengan minat mereka.
  • Memberikan kesempatan bagi murid untuk mengevaluasi pembelajaran mereka.
  • Membiarkan murid menentukan rencana, jadwal, atau agenda dalam pembelajaran.

Tentu masih banyak contoh lain. Apakah Ibu/Bapak memiliki ide tambahan?


3. Kepemilikan

Untuk mendorong kepemimpinan murid dalam belajar, guru perlu mengupayakan agar aspek pilihan, suara, dan rasa memiliki dapat berkembang dalam diri murid. Ketika murid diberi kesempatan untuk menentukan pilihan dan menyuarakan pendapatnya, mereka akan merasakan kepemilikan atas pembelajaran mereka. Dengan adanya rasa memiliki, suara murid pun dapat tersalurkan dengan lebih nyata.

Penting untuk diingat bahwa ketiga aspek ini tidak bisa berjalan dalam lingkungan yang tidak memiliki struktur. Ketiga elemen ini harus diterapkan dengan penuh pertimbangan dalam lingkungan belajar yang mendukung pertumbuhannya secara otentik. Lingkungan belajar semacam ini menuntut keterlibatan semua anggota komunitas agar proses berjalan dengan baik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Unggulan

SEHATI (Sekolah Bersih dan Indah Tangging Jawab Kita)

 

Paling Populer