Ketika murid memimpin proses pembelajaran mereka sendiri (atau dengan kata lain, saat mereka memiliki agency), mereka sesungguhnya memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam perjalanan belajarnya. Melalui suara, pilihan, dan kepemilikan ini, murid membangun kapasitas untuk menjadi pemilik sejati dari proses belajarnya sendiri. Peran kita sebagai guru hanyalah menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid merasa memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan atas apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan, cara mereka melaksanakan niat tersebut, dan bagaimana mereka merefleksikan tindakannya.
Apa yang dimaksud dengan suara, pilihan, dan kepemilikan murid ini? Mari kita ulas satu per satu aspek tersebut.
1. Suara
Ketika kita membicarakan tentang "suara" murid, yang dimaksud bukan sekadar memberikan mereka kesempatan untuk menyampaikan ide atau pendapat.
Voice atau suara murid melibatkan pandangan, perhatian, dan gagasan mereka yang terwujud melalui partisipasi aktif dalam kelas, sekolah, komunitas, dan sistem pendidikan mereka, yang membantu membentuk proses pengambilan keputusan serta mempengaruhi hasil secara bersama-sama (sumber: www.education.vic.gov.au).
Menghargai suara murid berarti memberdayakan mereka untuk memiliki kekuatan dalam menciptakan perubahan. Suara murid yang autentik memungkinkan mereka untuk berkolaborasi dan membuat keputusan bersama dengan orang dewasa terkait apa yang dipelajari, bagaimana mereka belajar, dan bagaimana hasilnya dinilai.
Mendorong suara murid dalam proses belajar dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Suara murid dapat dibangun melalui diskusi, membuka ruang untuk ekspresi kreatif, berbagi pendapat, mempersonalisasi pengalaman belajar, dan sebagainya. Berikut beberapa contoh bagaimana sekolah atau guru dapat mendukung "suara murid":
- Membangun budaya saling mendengarkan.
- Mendorong kepercayaan diri murid agar setiap suara dianggap penting dan berharga.
- Melibatkan murid dalam evaluasi proses pembelajaran yang telah berlangsung.
- Meminta masukan dari murid tentang program dan kebijakan sekolah.
- Melibatkan murid dalam perencanaan pembelajaran.
- Melibatkan mereka dalam penyusunan kriteria penilaian.
- Memberi ruang bagi murid untuk bertanya, berpendapat, dan berdiskusi dalam berbagai kesempatan belajar.
- Mengajak murid mendiskusikan dan menyepakati nilai-nilai dan peraturan kelas.
- Membentuk dewan murid atau komite murid untuk memberikan masukan kepada sekolah tentang berbagai aspek, seperti fasilitas, kegiatan, kantin, atau seragam.
- Memberikan kesempatan murid untuk memberi masukan tentang alat bermain atau fasilitas halaman sekolah.
- Memfasilitasi saran terkait menu kantin yang dijual.
- Membuat kotak saran untuk masukan dari murid tentang sekolah.
- Mengadakan pembelajaran berbasis proyek, di mana murid mengidentifikasi masalah nyata yang menarik minat mereka, dan berkolaborasi mencari solusi.
- Menyediakan blog murid atau majalah dinding sebagai media ekspresi dan kreativitas mereka.
Guru dapat memotivasi dan memberikan "pilihan" kepada murid melalui berbagai aktivitas lain. Silakan Ibu/Bapak menggali lebih banyak inspirasi atau contoh lain untuk mendukung inisiatif ini!
2. Pilihan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar