Powered By Blogger

Senin, 28 Oktober 2024

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.2 ( CGP Angkatan 11 )

 

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN PENDIDIKAN CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 11

MODUL 3.2

PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

UDIN JAENUDIN, S.Pd

SMAN 1 SURANENGGALA KABUPATEN CIREBON

 

Jurnal Refleksi dwi mingguan ini dibuat untuk melengkapi  salah satu tugas calon guru penggerak. Sebagai calon guru penggerak saya akan merefleksikan  seluruh rangkaian kegiatan selama mempelajari modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Jurnal ini sebagai refleksi diri setelah selama dua minggu ke-9 kebelakang yang ditulis secara rutin selama dua mingguan sebagai tugas yang harus dikerjakan oleh calon guru penggerak.

Dalam menulis jurnal refleksi ini saya menggunakan model 1 yaitu model 4F (Fact, Feeling, Findings, dan Future, yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P yakni : Peristiwa; Perasaan; Pembelajaran; dan Penerapan.

  1. Peristiwa (Fact)

Setelah menyelesaikan pembelajaran pada modul 3.2, saya melanjutkan ke materi yang lebih mendalam mengenai peran Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Proses pembelajaran ini dilaksanakan secara daring melalui platform LMS, mengikuti alur M-E-R-D-E-K-A yang mencakup: Mulai dari Diri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antarmateri, dan Aksi Nyata.

Pada tahap awal, yaitu "Mulai dari Diri," saya diinstruksikan untuk mengaktifkan kembali pemahaman saya mengenai ekosistem sekolah dan peran pemimpin dalam pengelolaan sumber daya melalui serangkaian pertanyaan reflektif. Selanjutnya, pada alur "Eksplorasi Konsep," saya mempelajari secara mandiri berbagai materi yang disediakan di LMS, yang meliputi pendekatan berbasis masalah dan aset, serta pengembangan komunitas berbasis aset, termasuk analisis kasus-kasus untuk memperdalam pemahaman.

Di tahap "Ruang Kolaborasi," saya berpartisipasi dalam diskusi kelompok tentang kekuatan sumber daya sekolah, yang dilaksanakan melalui Google Meet dan dilanjutkan dengan presentasi hasil diskusi. Pada "Demonstrasi Kontekstual," saya melakukan analisis video terkait visi perubahan, mengidentifikasi tahapan BAGJA, serta peran pemimpin pembelajaran. Tahap ini diikuti oleh "Elaborasi Pemahaman," di mana saya mengajukan pertanyaan yang menguatkan pemahaman, dan melibatkan diskusi virtual dengan instruktur.

Kemudian, di "Koneksi Antarmateri," saya menghubungkan materi pemimpin dalam pengelolaan sumber daya dengan pembelajaran sebelumnya. Akhirnya, pada "Aksi Nyata," kami sebagai calon guru penggerak diminta untuk mengidentifikasi dan memetakan aset di sekolah secara kolaboratif agar semua warga sekolah dapat memanfaatkannya dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Melalui proses ini, saya mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran pemimpin dalam mengelola sumber daya sekolah dan menyiapkan diri untuk menerapkan pembelajaran ini dalam praktik sebagai guru penggerak.

  1. Perasaan (Feeling)

Sebelum mempelajari modul 3.2, fokus saya lebih pada kekurangan dan masalah di sekolah, serta pemahaman bahwa aset sekolah terbatas pada sarana prasarana fisik. Namun, materi ini telah mengubah pandangan saya secara mendalam; saya menyadari pentingnya pendekatan berbasis aset dalam pengelolaan sekolah, yang melihat sekolah melalui perspektif kekuatan yang dimiliki. Hal ini membuka wawasan saya untuk mengoptimalkan potensi yang ada, termasuk kekuatan internal komunitas sekolah.

Saya merasa senang, bersemangat, dan optimis karena melihat sekolah memiliki potensi besar yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Kegiatan pemetaan aset yang saya lakukan bersama rekan-rekan telah memberikan optimisme dalam memberdayakan sumber daya sekolah untuk menciptakan dampak positif bagi siswa. Saya juga merasa senang dapat mengajak rekan sejawat untuk mengadopsi pandangan berbasis kekuatan, sehingga kami lebih peka terhadap potensi yang dimiliki dan mampu mengintegrasikannya dalam program sekolah.

  1. Pembelajaran (Findings)

Sebelum mengeksplorasi modul 3.2, pemahaman saya mengenai sekolah sebatas pada interaksi berbagai komponen biotik dan abiotik yang saling mendukung. Komunitas sekolah terdiri dari murid, kepala sekolah, guru, staf, serta orang tua dan masyarakat, sementara faktor abiotik meliputi keuangan, sarana, prasarana, dan lingkungan yang penting untuk pembelajaran. Namun, setelah mempelajari materi ini, pandangan saya mengenai ekosistem sekolah menjadi lebih mendalam dengan pendekatan berbasis aset. Saya menyadari bahwa dengan melihat kekuatan dan potensi komunitas sekolah, kita dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang berkelanjutan.

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA), yang dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann, menjadi model yang lebih positif dan memberdayakan dibandingkan pendekatan berbasis kekurangan. Dalam konteks sekolah, pendekatan PKBA mendorong pengelolaan sumber daya dengan memanfaatkan modal manusia, sosial, politik, agama dan budaya, fisik, lingkungan, serta finansial yang ada di sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Sebagai pemimpin pembelajaran, penting untuk mengadopsi pendekatan berbasis aset guna menggerakkan perubahan yang mendukung kepentingan siswa. Melalui pendekatan ini, pemimpin pembelajaran dapat mengidentifikasi, menggali, menganalisis, dan memetakan kekuatan komunitas sekolah, baik dari komponen biotik maupun abiotik, sehingga tercipta lingkungan yang mendukung perkembangan semua pihak.

  1. Penerapan (Future)

Ke depan, dalam menjalankan peran saya sebagai pemimpin di kelas dan di sekolah, saya menyadari pentingnya mengelola tujuh modal utama sebagai kekuatan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Saya akan menerapkan pendekatan berbasis aset dan kekurangan guna mencapai tujuan tersebut. Dalam pandangan saya, guru adalah aset utama yang perlu terus dikembangkan untuk mengelola sumber daya guna menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpihak pada siswa.

Saya berkomitmen untuk membimbing siswa secara individual, memberdayakan peran guru, merumuskan visi perubahan yang jelas, serta membangun budaya positif di sekolah. Saya juga akan menerapkan pendekatan pembelajaran yang beragam, memperhatikan aspek sosial-emosional siswa, dan membuat keputusan yang berlandaskan nilai moral. Selain itu, pendampingan dan supervisi akademik akan dilakukan secara berkala untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan berdaya guna. Melalui pendekatan ini, saya yakin bahwa kita akan mencapai visi bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan bagi semua siswa.

 

 Salam Guru Penggerak !

Tergerak, Bergerak dan Menggerakkan


 




 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Unggulan

SEHATI (Sekolah Bersih dan Indah Tangging Jawab Kita)

 

Paling Populer