Salah satu dari tujuh aset yang dapat memperkuat sekolah adalah aset sosial. Komunitas merupakan bagian penting dari aset sosial yang dimiliki oleh sekolah dan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas program dan kegiatan pembelajaran. Komunitas yang dimaksud mencakup murid, guru, orang tua, anggota keluarga lainnya, serta masyarakat sekitar, yang dapat memengaruhi proses belajar murid, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah menekankan pentingnya kemitraan antara sekolah, orang tua, dan masyarakat, yang dikenal dengan istilah “Tri Sentra Pendidikan”. Kemitraan ini melibatkan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat yang didasari oleh prinsip gotong royong, kesetaraan, saling percaya, saling menghormati, dan keinginan untuk berkorban demi membangun ekosistem pendidikan yang menumbuhkan karakter dan budaya prestasi bagi peserta didik. Dengan pemberdayaan dan kolaborasi dari Tri Sentra Pendidikan ini, keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pembelajaran menjadi fokus utama yang perlu terus didorong oleh sekolah.
Murid, sebagai pusat dari proses pendidikan, terlibat dalam berbagai komunitas. Mereka berada di dalam:
- Komunitas keluarga (terdiri dari orang tua, saudara, pengasuh, dsb)
- Komunitas kelas dan antar kelas (terdiri dari teman-teman sekelas dan guru)
- Komunitas sekolah (terdiri dari kepala sekolah, pustakawan, penjaga sekolah, laboran, petugas kebersihan, petugas keamanan, dsb)
- Komunitas sekitar sekolah (terdiri dari RT/RW, tokoh masyarakat, puskesmas, tokoh agama, dsb)
- Komunitas yang lebih luas (terdiri dari organisasi masyarakat, dunia usaha, media, universitas, DPR, dsb)
Setiap komunitas ini, baik langsung maupun tidak langsung, memengaruhi pembelajaran murid. Komunitas-komunitas ini merupakan aset sosial yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, termasuk dalam pengembangan kepemimpinan murid. Ini dapat dilakukan dengan mendorong dan mempromosikan ‘suara, pilihan, dan kepemilikan’ murid melalui peran mereka dan interaksi mereka dalam komunitas-komunitas tersebut. Bagaimana kita bisa melibatkan setiap komunitas ini untuk membantu mempromosikan dan mendorong ‘suara, pilihan, dan kepemilikan’ murid? Mari kita bahas lebih lanjut satu per satu.
Komunitas keluargaBeberapa pertanyaan berikut dapat membantu Ibu/Bapak dalam merancang cara untuk mendorong keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran:
- Sejauh mana orang tua memahami visi dan misi sekolah terkait upaya pengembangan kepemimpinan murid? Apakah mereka mengerti apa yang dimaksud dengan suara, pilihan, dan kepemilikan murid (voice, choice, dan ownership)? Apa yang perlu dilakukan untuk memperdalam pemahaman mereka?
- Sejauh mana orang tua menyadari bahwa keluarga merupakan bagian dari "tri sentra pendidikan"? Bagaimana kita dapat memastikan bahwa visi keluarga dapat mendukung pengembangan kepemimpinan murid? Apa langkah yang perlu diambil untuk menyelaraskan visi keluarga dengan visi sekolah?
- Apakah keterlibatan orang tua dalam kegiatan pembelajaran telah memperkuat atau malah melemahkan suara, pilihan, dan kepemilikan murid? (Contohnya, apakah orang tua mengambil alih peran murid dengan alasan 'ingin membantu'?).
- Peluang apa saja yang telah diberikan kepada orang tua untuk terlibat dalam kegiatan pembelajaran di kelas atau sekolah, baik dalam kegiatan intra kurikuler, ko kurikuler, maupun ekstra kurikuler? Sejauh mana kesempatan tersebut mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid serta kontribusi mereka dalam pengembangan kepemimpinan?
- Apa yang telah dilakukan untuk memastikan orang tua memahami apa yang dilakukan oleh anak-anak mereka dalam pembelajaran di kelas atau sekolah? (Sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam percakapan atau komunikasi yang otentik mengenai apa yang sedang dipelajari oleh anak mereka).
Dengan mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan ini, kami berharap Ibu/Bapak dapat lebih mindful dalam melibatkan orang tua dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, guna mendukung pencapaian tujuan pengembangan kepemimpinan murid.
Komunitas kelas dan antar kelas
Komunitas sekolah
Komunitas sekolah mencakup individu-individu yang aktif terlibat dalam kehidupan sekolah, meskipun mereka mungkin tidak berada di kelas setiap hari. Mereka termasuk kepala sekolah, konselor, staf administrasi, petugas parkir, pustakawan, petugas kantin, penjaga sekolah, pengawas sekolah, komite sekolah, anggota yayasan, dan lainnya. Meskipun mereka tidak mengajar langsung di kelas atau terlibat dalam kegiatan pembelajaran setiap hari, peran mereka tetap mempengaruhi proses belajar murid. Mengakui kontribusi mereka dalam mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid akan sangat penting untuk kesuksesan program pengembangan kepemimpinan murid.
Beberapa pertanyaan berikut dapat membantu Ibu/Bapak dalam memikirkan bagaimana melibatkan anggota komunitas sekolah dalam mempromosikan suara, pilihan, dan kepemilikan murid di berbagai program pembelajaran:
- Sejauh mana anggota komunitas sekolah (seperti petugas parkir, satpam, penjaga kantin, pustakawan, tenaga kebersihan) memahami visi dan misi sekolah terkait upaya menumbuhkan kepemimpinan murid? Apakah mereka mengetahui konsep suara, pilihan, dan kepemilikan murid, dan mengapa pemahaman mereka penting? Apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pemahaman mereka?
- Apakah saya mengetahui kontribusi yang bisa diberikan pustakawan untuk mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid? Seberapa sering saya melibatkan pustakawan dalam perencanaan program pembelajaran di sekolah?
- Bagaimana saya bisa mengajak tenaga kependidikan, mulai dari petugas parkir hingga penjaga kantin, untuk berperan dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif yang mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid?
- Bagaimana saya bisa melibatkan mereka untuk menghubungkan murid-murid dengan dunia luar kelas agar mereka dapat memperluas pembelajaran dan mewujudkan suara serta pilihan mereka?
Pertanyaan-pertanyaan ini diharapkan dapat membantu Ibu/Bapak untuk lebih berpikir tentang bagaimana melibatkan seluruh komunitas sekolah dalam membangun lingkungan belajar yang inklusif dan memberdayakan bagi murid.
Komunitas sekitar sekolah
Komunitas sekitar sekolah merujuk pada masyarakat yang berada di luar lingkungan sekolah, tetapi masih dalam radius yang dekat dengan sekolah tersebut. Komunitas ini meliputi berbagai pihak seperti tempat ibadah, rumah sakit, warung, bisnis sekitar sekolah, serta perusahaan tempat orang tua murid bekerja. Meskipun mereka mungkin tidak terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran di kelas, komunitas ini memiliki potensi besar untuk mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid melalui peran yang dapat mereka mainkan.
Berikut beberapa pertanyaan yang dapat membantu Ibu/Bapak untuk memikirkan cara melibatkan komunitas sekitar sekolah dalam mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid:
- Apakah saya mengetahui isu-isu yang sedang berkembang di masyarakat sekitar sekolah? Bagaimana cara saya untuk lebih mengenal isu-isu tersebut?
- Bagaimana saya bisa membawa isu-isu dari masyarakat sekitar ke dalam kelas dan menjadikannya sebagai peluang untuk mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid?
- Bagaimana cara saya membuka ruang dialog dengan masyarakat sekitar agar saya bisa mengkomunikasikan harapan saya tentang kepemimpinan murid yang ingin saya bangun dalam diri murid-murid saya?
Pertanyaan-pertanyaan ini bertujuan untuk memotivasi pemikiran Ibu/Bapak dalam membangun hubungan yang lebih kuat antara sekolah dan komunitas sekitar, guna menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan murid secara lebih luas.
Komunitas yang lebih luas
Komunitas yang lebih luas merujuk pada kelompok-kelompok atau organisasi yang berjarak jauh dari lingkungan sekolah namun tetap memiliki potensi untuk mempengaruhi kebijakan dan kegiatan di sekolah. Contohnya termasuk media massa (baik lokal, nasional, maupun internasional), media sosial, universitas, pemerintah, ormas, partai politik, dunia usaha, dunia industri, dan berbagai lembaga lainnya.
Walaupun komunitas ini tidak berinteraksi langsung dengan murid-murid, pengaruh mereka sering kali terasa, baik melalui media atau kegiatan yang mereka lakukan. Misalnya, meskipun murid tidak berinteraksi langsung dengan para YouTuber, konten yang mereka buat bisa mempengaruhi pola pikir dan pandangan murid-murid. Oleh karena itu, meskipun jarak mereka jauh, peran komunitas ini tetap penting dalam mewujudkan kepemimpinan murid yang mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid.
Beberapa pertanyaan berikut bisa membantu Ibu/Bapak berpikir lebih kritis tentang bagaimana melibatkan komunitas yang lebih luas dalam mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid:
- Siapa saja yang termasuk dalam komunitas lebih luas ini? Bagaimana mereka bisa berpengaruh, baik secara langsung maupun tidak langsung, pada kegiatan pembelajaran di kelas/sekolah?
- Apakah ada peluang untuk melibatkan mereka secara langsung dalam program atau kegiatan pembelajaran di kelas/sekolah?
- Jika tidak memungkinkan untuk melibatkan mereka langsung, bagaimana saya bisa memanfaatkan konten atau produk dari komunitas ini (misalnya berita terkini, artikel, jurnal, kebijakan) dan membawanya ke kelas untuk merangsang inkuiri di kalangan murid?
- Jenis komunikasi apa yang perlu saya lakukan untuk mendorong keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran?
Pertanyaan-pertanyaan ini diharapkan bisa mendorong Ibu/Bapak untuk memanfaatkan potensi komunitas yang lebih luas untuk memperkaya pengalaman belajar murid dan mendukung pengembangan suara, pilihan, dan kepemilikan mereka.
Komunitas-komunitas yang mendukung kepemimpinan murid memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang memberdayakan mereka. Dengan memberikan kesempatan untuk mengungkapkan suara, membuat pilihan, dan memiliki kepemilikan atas proses pembelajaran, komunitas ini berkontribusi dalam mengembangkan karakter dan keterampilan penting, seperti rasa percaya diri, kemandirian, kreativitas, ketahanan, serta kemampuan berpikir kritis pada murid. Interaksi yang membangun dengan komunitas ini akan membantu murid merasa didukung, berdaya, dan memiliki efikasi diri yang tinggi, yang sangat diperlukan untuk membentuk pemimpin masa depan.
Dengan melibatkan berbagai komunitas dalam proses pembelajaran, kita tidak hanya membantu murid mengembangkan potensi diri mereka, tetapi juga memperkuat identitas dan efikasi diri mereka, serta membekali mereka untuk menjadi agen perubahan yang berdampak positif bagi diri sendiri, orang lain, dan masyarakat. Namun, agar keterlibatan komunitas ini benar-benar mendukung kepemimpinan murid, penting bagi kita untuk memastikan bahwa mereka dapat mendorong aspek-aspek suara, pilihan, dan kepemilikan murid, bukan malah menguranginya.
Untuk itu, prinsip-prinsip dalam membangun interaksi yang positif antara murid dan komunitas harus dijadikan pedoman, mulai dari menciptakan suasana yang menghargai murid, mendengarkan mereka dengan tulus, hingga memberi mereka kesempatan untuk membuat keputusan yang berdampak pada diri mereka sendiri. Dengan mendengarkan dan berdialog secara setara, serta melibatkan murid dalam proses pengambilan keputusan, kita akan membimbing mereka untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam dan mengembangkan keterampilan yang dapat diterapkan di berbagai aspek kehidupan mereka.
Kami berharap melalui pemahaman ini, Ibu/Bapak dapat semakin menyadari pentingnya meningkatkan kesempatan bagi murid untuk mengembangkan kepemimpinan mereka, tidak hanya di dalam kelas tetapi juga dalam berbagai kegiatan di luar kelas. Dengan memberikan kesempatan tersebut, kita memberi mereka keterampilan yang akan berguna sepanjang hidup mereka, membantu mereka menjadi pembelajar yang mandiri dan percaya diri, serta warga negara yang bertanggung jawab dan siap memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

