Powered By Blogger

Minggu, 10 November 2024

Peran Keterlibatan Komunitas dalam Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid

Salah satu dari tujuh aset yang dapat memperkuat sekolah adalah aset sosial. Komunitas merupakan bagian penting dari aset sosial yang dimiliki oleh sekolah dan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas program dan kegiatan pembelajaran. Komunitas yang dimaksud mencakup murid, guru, orang tua, anggota keluarga lainnya, serta masyarakat sekitar, yang dapat memengaruhi proses belajar murid, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah menekankan pentingnya kemitraan antara sekolah, orang tua, dan masyarakat, yang dikenal dengan istilah “Tri Sentra Pendidikan”. Kemitraan ini melibatkan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat yang didasari oleh prinsip gotong royong, kesetaraan, saling percaya, saling menghormati, dan keinginan untuk berkorban demi membangun ekosistem pendidikan yang menumbuhkan karakter dan budaya prestasi bagi peserta didik. Dengan pemberdayaan dan kolaborasi dari Tri Sentra Pendidikan ini, keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pembelajaran menjadi fokus utama yang perlu terus didorong oleh sekolah.

Murid, sebagai pusat dari proses pendidikan, terlibat dalam berbagai komunitas. Mereka berada di dalam:

  1. Komunitas keluarga (terdiri dari orang tua, saudara, pengasuh, dsb)
  2. Komunitas kelas dan antar kelas (terdiri dari teman-teman sekelas dan guru)
  3. Komunitas sekolah (terdiri dari kepala sekolah, pustakawan, penjaga sekolah, laboran, petugas kebersihan, petugas keamanan, dsb)
  4. Komunitas sekitar sekolah (terdiri dari RT/RW, tokoh masyarakat, puskesmas, tokoh agama, dsb)
  5. Komunitas yang lebih luas (terdiri dari organisasi masyarakat, dunia usaha, media, universitas, DPR, dsb)

Setiap komunitas ini, baik langsung maupun tidak langsung, memengaruhi pembelajaran murid. Komunitas-komunitas ini merupakan aset sosial yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, termasuk dalam pengembangan kepemimpinan murid. Ini dapat dilakukan dengan mendorong dan mempromosikan ‘suara, pilihan, dan kepemilikan’ murid melalui peran mereka dan interaksi mereka dalam komunitas-komunitas tersebut. Bagaimana kita bisa melibatkan setiap komunitas ini untuk membantu mempromosikan dan mendorong ‘suara, pilihan, dan kepemilikan’ murid? Mari kita bahas lebih lanjut satu per satu.

Komunitas keluarga
Komunitas pertama dan paling penting bagi murid adalah keluarga. Murid umumnya menghabiskan lebih banyak waktu di rumah bersama keluarga dibandingkan di sekolah. Oleh karena itu, sebagai pendidik, kita perlu mencari cara agar keluarga dapat berperan aktif dalam mendorong berkembangnya suara, pilihan, dan kepemimpinan murid. Ini tentu sejalan dengan pandangan Ki Hajar Dewantara yang mengatakan bahwa:
“Sesungguhnya alam-keluarga itu bukannya pusat pendidikan individual saja, akan tetapi juga suatu pusat untuk melakukan pendidikan sosial. Orangtua harus melakukan pendidikan bersama dengan pusat-pusat pendidikan, dan terhubung dengan kaum guru dan pengajar [Ki Hadjar Dewantara dalam Wasita, Tahun ke-1 No.3, Mei 1993]”

Beberapa pertanyaan berikut dapat membantu Ibu/Bapak dalam merancang cara untuk mendorong keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran:

  1. Sejauh mana orang tua memahami visi dan misi sekolah terkait upaya pengembangan kepemimpinan murid? Apakah mereka mengerti apa yang dimaksud dengan suara, pilihan, dan kepemilikan murid (voice, choice, dan ownership)? Apa yang perlu dilakukan untuk memperdalam pemahaman mereka?
  2. Sejauh mana orang tua menyadari bahwa keluarga merupakan bagian dari "tri sentra pendidikan"? Bagaimana kita dapat memastikan bahwa visi keluarga dapat mendukung pengembangan kepemimpinan murid? Apa langkah yang perlu diambil untuk menyelaraskan visi keluarga dengan visi sekolah?
  3. Apakah keterlibatan orang tua dalam kegiatan pembelajaran telah memperkuat atau malah melemahkan suara, pilihan, dan kepemilikan murid? (Contohnya, apakah orang tua mengambil alih peran murid dengan alasan 'ingin membantu'?).
  4. Peluang apa saja yang telah diberikan kepada orang tua untuk terlibat dalam kegiatan pembelajaran di kelas atau sekolah, baik dalam kegiatan intra kurikuler, ko kurikuler, maupun ekstra kurikuler? Sejauh mana kesempatan tersebut mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid serta kontribusi mereka dalam pengembangan kepemimpinan?
  5. Apa yang telah dilakukan untuk memastikan orang tua memahami apa yang dilakukan oleh anak-anak mereka dalam pembelajaran di kelas atau sekolah? (Sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam percakapan atau komunikasi yang otentik mengenai apa yang sedang dipelajari oleh anak mereka).

Dengan mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan ini, kami berharap Ibu/Bapak dapat lebih mindful dalam melibatkan orang tua dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, guna mendukung pencapaian tujuan pengembangan kepemimpinan murid.


Komunitas kelas dan antar kelas

Komunitas kelas mencakup murid, guru, dan wali kelas, baik yang berada di kelas yang sama maupun kelas lainnya. Interaksi antara guru dan murid, serta interaksi antar murid, memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana suara, pilihan, dan kepemilikan murid bisa terwujud. Oleh karena itu, peran Ibu/Bapak sangat krusial dalam hal ini.

Berikut beberapa pertanyaan yang bisa membantu Ibu/Bapak dalam merancang langkah-langkah untuk mendorong dan mempromosikan suara, pilihan, dan kepemilikan murid di kelas:

  1. Apa yang telah saya lakukan untuk mendorong rasa ingin tahu dan kreativitas murid?
  2. Apakah saya sudah memastikan murid memahami tujuan dari kegiatan pembelajaran mereka, sehingga mereka bisa mengatur diri sendiri dan memonitor progres mereka dalam mencapai tujuan tersebut?
  3. Apa yang telah saya lakukan untuk membantu murid membangun pemahaman mereka sendiri? Apakah saya sering memberikan jawaban langsung, atau sesekali berkata, “Saya juga belum tahu jawabannya, mari kita cari bersama!”
  4. Apakah saya memberi waktu tunggu yang cukup bagi murid untuk berpikir sebelum menjawab?
  5. Sejauh mana saya menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari murid?
  6. Seberapa sering saya mengajak murid untuk melakukan refleksi atas pembelajaran mereka?
  7. Sudahkah saya menanyakan apa yang ingin mereka pelajari dan minati?
  8. Sejauh mana saya memberi kesempatan pada murid untuk memilih cara, dengan siapa, dan bagaimana mereka belajar?
  9. Apa yang sudah saya lakukan untuk menghubungkan murid dengan dunia luar kelas, serta masyarakat sekitar mereka?

Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, diharapkan Ibu/Bapak dapat lebih efektif dalam mengembangkan pembelajaran yang memberi ruang bagi murid untuk mengeksplorasi suara, pilihan, dan kepemilikan mereka.


Komunitas sekolah

Komunitas sekolah mencakup individu-individu yang aktif terlibat dalam kehidupan sekolah, meskipun mereka mungkin tidak berada di kelas setiap hari. Mereka termasuk kepala sekolah, konselor, staf administrasi, petugas parkir, pustakawan, petugas kantin, penjaga sekolah, pengawas sekolah, komite sekolah, anggota yayasan, dan lainnya. Meskipun mereka tidak mengajar langsung di kelas atau terlibat dalam kegiatan pembelajaran setiap hari, peran mereka tetap mempengaruhi proses belajar murid. Mengakui kontribusi mereka dalam mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid akan sangat penting untuk kesuksesan program pengembangan kepemimpinan murid.

Beberapa pertanyaan berikut dapat membantu Ibu/Bapak dalam memikirkan bagaimana melibatkan anggota komunitas sekolah dalam mempromosikan suara, pilihan, dan kepemilikan murid di berbagai program pembelajaran:

  1. Sejauh mana anggota komunitas sekolah (seperti petugas parkir, satpam, penjaga kantin, pustakawan, tenaga kebersihan) memahami visi dan misi sekolah terkait upaya menumbuhkan kepemimpinan murid? Apakah mereka mengetahui konsep suara, pilihan, dan kepemilikan murid, dan mengapa pemahaman mereka penting? Apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pemahaman mereka?
  2. Apakah saya mengetahui kontribusi yang bisa diberikan pustakawan untuk mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid? Seberapa sering saya melibatkan pustakawan dalam perencanaan program pembelajaran di sekolah?
  3. Bagaimana saya bisa mengajak tenaga kependidikan, mulai dari petugas parkir hingga penjaga kantin, untuk berperan dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif yang mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid?
  4. Bagaimana saya bisa melibatkan mereka untuk menghubungkan murid-murid dengan dunia luar kelas agar mereka dapat memperluas pembelajaran dan mewujudkan suara serta pilihan mereka?

Pertanyaan-pertanyaan ini diharapkan dapat membantu Ibu/Bapak untuk lebih berpikir tentang bagaimana melibatkan seluruh komunitas sekolah dalam membangun lingkungan belajar yang inklusif dan memberdayakan bagi murid.


Komunitas sekitar sekolah

Komunitas sekitar sekolah merujuk pada masyarakat yang berada di luar lingkungan sekolah, tetapi masih dalam radius yang dekat dengan sekolah tersebut. Komunitas ini meliputi berbagai pihak seperti tempat ibadah, rumah sakit, warung, bisnis sekitar sekolah, serta perusahaan tempat orang tua murid bekerja. Meskipun mereka mungkin tidak terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran di kelas, komunitas ini memiliki potensi besar untuk mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid melalui peran yang dapat mereka mainkan.

Berikut beberapa pertanyaan yang dapat membantu Ibu/Bapak untuk memikirkan cara melibatkan komunitas sekitar sekolah dalam mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid:

  1. Apakah saya mengetahui isu-isu yang sedang berkembang di masyarakat sekitar sekolah? Bagaimana cara saya untuk lebih mengenal isu-isu tersebut?
  2. Bagaimana saya bisa membawa isu-isu dari masyarakat sekitar ke dalam kelas dan menjadikannya sebagai peluang untuk mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid?
  3. Bagaimana cara saya membuka ruang dialog dengan masyarakat sekitar agar saya bisa mengkomunikasikan harapan saya tentang kepemimpinan murid yang ingin saya bangun dalam diri murid-murid saya?

Pertanyaan-pertanyaan ini bertujuan untuk memotivasi pemikiran Ibu/Bapak dalam membangun hubungan yang lebih kuat antara sekolah dan komunitas sekitar, guna menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan murid secara lebih luas.


Komunitas yang lebih luas

Komunitas yang lebih luas merujuk pada kelompok-kelompok atau organisasi yang berjarak jauh dari lingkungan sekolah namun tetap memiliki potensi untuk mempengaruhi kebijakan dan kegiatan di sekolah. Contohnya termasuk media massa (baik lokal, nasional, maupun internasional), media sosial, universitas, pemerintah, ormas, partai politik, dunia usaha, dunia industri, dan berbagai lembaga lainnya.

Walaupun komunitas ini tidak berinteraksi langsung dengan murid-murid, pengaruh mereka sering kali terasa, baik melalui media atau kegiatan yang mereka lakukan. Misalnya, meskipun murid tidak berinteraksi langsung dengan para YouTuber, konten yang mereka buat bisa mempengaruhi pola pikir dan pandangan murid-murid. Oleh karena itu, meskipun jarak mereka jauh, peran komunitas ini tetap penting dalam mewujudkan kepemimpinan murid yang mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid.

Beberapa pertanyaan berikut bisa membantu Ibu/Bapak berpikir lebih kritis tentang bagaimana melibatkan komunitas yang lebih luas dalam mendukung suara, pilihan, dan kepemilikan murid:

  1. Siapa saja yang termasuk dalam komunitas lebih luas ini? Bagaimana mereka bisa berpengaruh, baik secara langsung maupun tidak langsung, pada kegiatan pembelajaran di kelas/sekolah?
  2. Apakah ada peluang untuk melibatkan mereka secara langsung dalam program atau kegiatan pembelajaran di kelas/sekolah?
  3. Jika tidak memungkinkan untuk melibatkan mereka langsung, bagaimana saya bisa memanfaatkan konten atau produk dari komunitas ini (misalnya berita terkini, artikel, jurnal, kebijakan) dan membawanya ke kelas untuk merangsang inkuiri di kalangan murid?
  4. Jenis komunikasi apa yang perlu saya lakukan untuk mendorong keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran?

Pertanyaan-pertanyaan ini diharapkan bisa mendorong Ibu/Bapak untuk memanfaatkan potensi komunitas yang lebih luas untuk memperkaya pengalaman belajar murid dan mendukung pengembangan suara, pilihan, dan kepemilikan mereka.


Komunitas-komunitas yang mendukung kepemimpinan murid memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang memberdayakan mereka. Dengan memberikan kesempatan untuk mengungkapkan suara, membuat pilihan, dan memiliki kepemilikan atas proses pembelajaran, komunitas ini berkontribusi dalam mengembangkan karakter dan keterampilan penting, seperti rasa percaya diri, kemandirian, kreativitas, ketahanan, serta kemampuan berpikir kritis pada murid. Interaksi yang membangun dengan komunitas ini akan membantu murid merasa didukung, berdaya, dan memiliki efikasi diri yang tinggi, yang sangat diperlukan untuk membentuk pemimpin masa depan.

Dengan melibatkan berbagai komunitas dalam proses pembelajaran, kita tidak hanya membantu murid mengembangkan potensi diri mereka, tetapi juga memperkuat identitas dan efikasi diri mereka, serta membekali mereka untuk menjadi agen perubahan yang berdampak positif bagi diri sendiri, orang lain, dan masyarakat. Namun, agar keterlibatan komunitas ini benar-benar mendukung kepemimpinan murid, penting bagi kita untuk memastikan bahwa mereka dapat mendorong aspek-aspek suara, pilihan, dan kepemilikan murid, bukan malah menguranginya.

Untuk itu, prinsip-prinsip dalam membangun interaksi yang positif antara murid dan komunitas harus dijadikan pedoman, mulai dari menciptakan suasana yang menghargai murid, mendengarkan mereka dengan tulus, hingga memberi mereka kesempatan untuk membuat keputusan yang berdampak pada diri mereka sendiri. Dengan mendengarkan dan berdialog secara setara, serta melibatkan murid dalam proses pengambilan keputusan, kita akan membimbing mereka untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam dan mengembangkan keterampilan yang dapat diterapkan di berbagai aspek kehidupan mereka.

Kami berharap melalui pemahaman ini, Ibu/Bapak dapat semakin menyadari pentingnya meningkatkan kesempatan bagi murid untuk mengembangkan kepemimpinan mereka, tidak hanya di dalam kelas tetapi juga dalam berbagai kegiatan di luar kelas. Dengan memberikan kesempatan tersebut, kita memberi mereka keterampilan yang akan berguna sepanjang hidup mereka, membantu mereka menjadi pembelajar yang mandiri dan percaya diri, serta warga negara yang bertanggung jawab dan siap memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Kepemimpinan Murid Profil Pelajar Pancasila

Profil Pelajar Pancasila adalah visi dan harapan Indonesia untuk karakter warga negaranya di masa depan, sehingga sebaiknya menjadi dasar visi sekolah. Mendorong kepemimpinan murid memberi mereka kesempatan untuk mengembangkan karakter positif, yang nantinya diharapkan menjadi wujud nyata dari Profil Pelajar Pancasila dalam diri mereka.



Jika kita lihat lebih dalam, dengan mengembangkan kepemimpinan murid, kita sekaligus membangun karakter murid yang:

1. Beriman, Bertaqwa, dan Berakhlak Mulia

Mengembangkan kepemimpinan murid akan mendorong mereka untuk menerapkan nilai-nilai agama dan kepercayaan dalam bentuk sikap serta tindakan positif. Murid-murid dengan kepemimpinan yang kuat akan menunjukkan perilaku yang baik terhadap diri sendiri, sesama, negara, dan lingkungan. Mengapa demikian? Karena mereka akan tumbuh menjadi individu yang mandiri, bukan hanya mengikuti perintah, tetapi juga mampu berdiri tegak, mengatur kehidupan diri mereka sendiri, serta menjaga hubungan yang harmonis dengan orang lain dan lingkungan. Mereka akan menghargai nilai-nilai kebajikan universal seperti kasih sayang, kejujuran, dan lain sebagainya.


2. Berkebinekaan Global

Mengembangkan kepemimpinan murid akan melatih mereka untuk memiliki pemikiran yang luas dan terbuka. Mereka akan terbiasa melihat perbedaan dan menghargai berbagai perspektif, yang diharapkan dapat membantu mereka hidup harmonis di masyarakat yang beragam. Mereka akan mampu beradaptasi dengan situasi dan perubahan yang mereka hadapi, serta menjadi pemecah masalah yang percaya diri, di mana pun mereka berada.


3. Bergotong Royong

Mendorong kepemimpinan murid akan mengajarkan mereka untuk aktif berinteraksi dengan orang lain, bekerja sama, dan berkontribusi dalam masyarakat yang lebih luas. Melalui interaksi ini, mereka akan tumbuh memiliki kepedulian untuk membantu sesama yang membutuhkan dan mampu bekerja sama untuk mencapai kebaikan dan kebahagiaan bersama.


4. Mandiri

Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid mengajak mereka untuk mengambil alih kendali dan bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri. Dengan mendorong kepemimpinan murid, kita juga melatih mereka untuk mengatur diri sendiri. Mereka akan belajar menetapkan tujuan dan merencanakan langkah-langkah strategis untuk perkembangan diri, sambil mengasah kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi dalam berbagai keadaan, serta percaya diri dalam menyelesaikan tantangan yang mereka hadapi.


5. Bernalar Kritis

Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid mendorong mereka untuk berpikir kritis, membuat keputusan yang bertanggung jawab, dan mengembangkan keterampilan refleksi melalui interaksi dengan komunitas yang lebih luas.


6. Kreatif

Menumbuhkembangkan kepemimpinan murid memberi mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan belajar yang mengharuskan mereka menemukan solusi kreatif. Mendorong murid untuk bersuara juga berarti memberikan ruang bagi mereka untuk berani mengambil risiko dan mengungkapkan ide-ide kreatif mereka.


Sebagai kesimpulan, menumbuhkembangkan kepemimpinan murid melalui Profil Pelajar Pancasila bukan hanya tentang memberikan kesempatan kepada murid untuk menjadi pemimpin dalam proses belajarnya, tetapi juga tentang membentuk karakter yang kuat, mandiri, dan bertanggung jawab. Melalui suara, pilihan, dan kepemilikan, murid dapat berkembang menjadi individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga penuh empati, kreatif, dan mampu beradaptasi di dunia yang terus berubah. Dengan membekali mereka dengan nilai-nilai Pancasila, kita tidak hanya mendidik murid untuk sukses secara akademik, tetapi juga untuk menjadi warga negara yang berintegritas dan berkontribusi pada masyarakat. Ini adalah langkah penting dalam mewujudkan masa depan yang lebih baik bagi bangsa kita.

Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid

 

Ketika murid memimpin proses pembelajaran mereka sendiri (atau dengan kata lain, saat mereka memiliki agency), mereka sesungguhnya memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam perjalanan belajarnya. Melalui suara, pilihan, dan kepemilikan ini, murid membangun kapasitas untuk menjadi pemilik sejati dari proses belajarnya sendiri. Peran kita sebagai guru hanyalah menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid merasa memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan atas apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan, cara mereka melaksanakan niat tersebut, dan bagaimana mereka merefleksikan tindakannya.

Apa yang dimaksud dengan suara, pilihan, dan kepemilikan murid ini? Mari kita ulas satu per satu aspek tersebut.

1. Suara

Ketika kita membicarakan tentang "suara" murid, yang dimaksud bukan sekadar memberikan mereka kesempatan untuk menyampaikan ide atau pendapat.

Voice atau suara murid melibatkan pandangan, perhatian, dan gagasan mereka yang terwujud melalui partisipasi aktif dalam kelas, sekolah, komunitas, dan sistem pendidikan mereka, yang membantu membentuk proses pengambilan keputusan serta mempengaruhi hasil secara bersama-sama (sumber: www.education.vic.gov.au).

Menghargai suara murid berarti memberdayakan mereka untuk memiliki kekuatan dalam menciptakan perubahan. Suara murid yang autentik memungkinkan mereka untuk berkolaborasi dan membuat keputusan bersama dengan orang dewasa terkait apa yang dipelajari, bagaimana mereka belajar, dan bagaimana hasilnya dinilai.

Mendorong suara murid dalam proses belajar dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Suara murid dapat dibangun melalui diskusi, membuka ruang untuk ekspresi kreatif, berbagi pendapat, mempersonalisasi pengalaman belajar, dan sebagainya. Berikut beberapa contoh bagaimana sekolah atau guru dapat mendukung "suara murid":

  • Membangun budaya saling mendengarkan.
  • Mendorong kepercayaan diri murid agar setiap suara dianggap penting dan berharga.
  • Melibatkan murid dalam evaluasi proses pembelajaran yang telah berlangsung.
  • Meminta masukan dari murid tentang program dan kebijakan sekolah.
  • Melibatkan murid dalam perencanaan pembelajaran.
  • Melibatkan mereka dalam penyusunan kriteria penilaian.
  • Memberi ruang bagi murid untuk bertanya, berpendapat, dan berdiskusi dalam berbagai kesempatan belajar.
  • Mengajak murid mendiskusikan dan menyepakati nilai-nilai dan peraturan kelas.
  • Membentuk dewan murid atau komite murid untuk memberikan masukan kepada sekolah tentang berbagai aspek, seperti fasilitas, kegiatan, kantin, atau seragam.
  • Memberikan kesempatan murid untuk memberi masukan tentang alat bermain atau fasilitas halaman sekolah.
  • Memfasilitasi saran terkait menu kantin yang dijual.
  • Membuat kotak saran untuk masukan dari murid tentang sekolah.
  • Mengadakan pembelajaran berbasis proyek, di mana murid mengidentifikasi masalah nyata yang menarik minat mereka, dan berkolaborasi mencari solusi.
  • Menyediakan blog murid atau majalah dinding sebagai media ekspresi dan kreativitas mereka.

Guru dapat memotivasi dan memberikan "pilihan" kepada murid melalui berbagai aktivitas lain. Silakan Ibu/Bapak menggali lebih banyak inspirasi atau contoh lain untuk mendukung inisiatif ini!


2. Pilihan

Pilihan (choice) adalah kesempatan yang diberikan kepada murid untuk menentukan berbagai opsi di ranah sosial, lingkungan, dan pembelajaran (marzanoacademies.org). Di ranah sosial, murid bisa memilih untuk bergabung dengan kelompok yang sesuai dengan minat atau tujuannya; di ranah lingkungan, mereka bisa memilih atau mengatur lokasi belajar yang mereka anggap paling kondusif. Sementara dalam pembelajaran, murid diberi opsi untuk mengakses materi, berlatih, atau menunjukkan pemahaman serta keterampilan mereka sesuai kurikulum.

Aiken et al. (2016) dalam Thibodeaux et al. (2019) mengemukakan bahwa pemberian pilihan pada murid dapat memberdayakan, meningkatkan partisipasi, dan memicu ketertarikan pada pengalaman belajar. Memberikan pilihan serta kepemilikan kepada murid mengharuskan adanya pengalihan sebagian kontrol pembelajaran kepada mereka (Thibodeaux, 2017; 2019).

Bandura (1997) juga menyatakan bahwa pemberian pilihan ini dapat meningkatkan motivasi dan otonomi murid, yang berdampak positif pada efikasi diri serta motivasi mereka (Thibodeaux et al., 2019).

Bagaimana guru dapat memberikan pilihan kepada murid dalam proses belajar? Berikut adalah beberapa contohnya:

  • Mengajarkan murid bahwa selalu ada berbagai opsi untuk dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan.
  • Membuka kesempatan bagi murid untuk memilih cara mereka menunjukkan pemahaman atas materi yang dipelajari.
  • Memberikan opsi kepada murid untuk menentukan peran mereka dalam suatu kegiatan atau program.
  • Membiarkan murid memilih kelompok belajar mereka.
  • Memberi kesempatan bagi murid untuk mengatur pengelolaan kegiatan yang mereka ikuti.
  • Menggunakan musyawarah atau voting untuk menentukan langkah atau aktivitas selanjutnya. Misalnya, ketika menentukan topik tertentu, guru dapat mendiskusikan opsi kegiatan bersama murid dan meminta mereka memilih.
  • Mengajak OSIS menyusun daftar kegiatan dan memberi kesempatan bagi murid untuk memilih kegiatan apa saja yang ingin diadakan dalam satu tahun ajaran.
  • Memungkinkan murid memilih jenis tugas yang mereka anggap paling menarik.
  • Memberi mereka kebebasan dalam mempresentasikan hasil karya sesuai gaya, minat, dan bakat.
  • Mengizinkan murid mencari sumber belajar yang sesuai dengan minat mereka.
  • Memberikan kesempatan bagi murid untuk mengevaluasi pembelajaran mereka.
  • Membiarkan murid menentukan rencana, jadwal, atau agenda dalam pembelajaran.

Tentu masih banyak contoh lain. Apakah Ibu/Bapak memiliki ide tambahan?


3. Kepemilikan

Untuk mendorong kepemimpinan murid dalam belajar, guru perlu mengupayakan agar aspek pilihan, suara, dan rasa memiliki dapat berkembang dalam diri murid. Ketika murid diberi kesempatan untuk menentukan pilihan dan menyuarakan pendapatnya, mereka akan merasakan kepemilikan atas pembelajaran mereka. Dengan adanya rasa memiliki, suara murid pun dapat tersalurkan dengan lebih nyata.

Penting untuk diingat bahwa ketiga aspek ini tidak bisa berjalan dalam lingkungan yang tidak memiliki struktur. Ketiga elemen ini harus diterapkan dengan penuh pertimbangan dalam lingkungan belajar yang mendukung pertumbuhannya secara otentik. Lingkungan belajar semacam ini menuntut keterlibatan semua anggota komunitas agar proses berjalan dengan baik.


Kepemimpinan Murid

Dengan filosofi dan metafora "menumbuhkan padi," Ki Hajar Dewantara mengingatkan kita bahwa untuk mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, diperlukan upaya sadar dan terencana dalam membangun ekosistem yang mendukung pembelajaran murid agar mereka dapat berkembang sesuai kodratnya. Oleh karena itu, dalam merancang program atau kegiatan pembelajaran di sekolah, baik itu intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler, hendaknya murid menjadi pertimbangan utama. Pertanyaannya kemudian, sejauh mana kita dapat melibatkan murid dalam pengambilan keputusan terkait program atau kegiatan pembelajaran tersebut?

Kita tentu sepakat bahwa murid memiliki kemampuan yang lebih dari sekadar mengikuti instruksi guru. Secara alami, mereka adalah pengamat, penjelajah, penanya, dengan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap berbagai hal. Melalui rasa ingin tahu ini, serta interaksi dan pengalaman mereka dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya, mereka membangun pemahaman tentang diri mereka, orang lain, dan dunia secara lebih luas. Dengan kata lain, murid memiliki kemampuan untuk berperan aktif dalam proses belajar mereka sendiri.

Namun, apakah kita pernah melakukan refleksi dan menyadari bahwa terkadang kita sebagai pendidik memperlakukan murid seolah-olah mereka tidak mampu membuat keputusan atau menyampaikan pendapat mengenai proses pembelajaran mereka? Sering kali, tanpa sadar kita membiarkan murid menjadi pasif dengan secara sepihak menentukan apa yang mereka pelajari dan bagaimana mereka mempelajarinya, tanpa melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan.

Agar murid dapat menjadi pemimpin bagi proses pembelajaran mereka sendiri, kita perlu memberi mereka kesempatan untuk mengembangkan kapasitas dalam mengelola pembelajaran mereka, sehingga potensi kepemimpinan mereka dapat berkembang secara optimal.

Peran kita adalah sebagai berikut:

  1. Mendampingi murid agar potensi kepemimpinan mereka berkembang sesuai kodrat, konteks, dan kebutuhan mereka.
  2. Mengurangi kontrol yang kita berikan.

Saat murid memiliki kendali atas apa yang terjadi atau merasa bahwa mereka dapat memengaruhi situasi, mereka memiliki apa yang disebut “agency.” Agency adalah kapasitas seseorang untuk memengaruhi fungsi diri dan arah kehidupannya melalui tindakan yang diambilnya. Albert Bandura dalam artikelnya, Toward a Psychology of Human Agency (2006), menyatakan bahwa menjadi seorang agent (seseorang yang memiliki agency) berarti orang tersebut secara sadar memengaruhi fungsi dan kondisi hidupnya. Dalam pandangan ini, pengaruh pribadi adalah bagian dari struktur kausal; individu mampu mengatur diri, proaktif, meregulasi diri, dan melakukan refleksi. Mereka tidak hanya sebagai penonton atas perilaku mereka sendiri tetapi juga sebagai kontributor atas keadaan hidup mereka.


Ivar

Selain itu, dalam artikel yang sama, Bandura juga menyebutkan empat sifat utama dari human agency, yang dalam modul ini disingkat menjadi akronim IVAR untuk memudahkan pengingatan, yaitu:

I - Intensi = Kesengajaan (intentionality). Seseorang yang memiliki agency tidak hanya sekadar memiliki niat, tetapi juga mencakup rencana tindakan dan strategi untuk mencapainya. Mereka yang memiliki agency memahami pentingnya mempertimbangkan keinginan pihak lain dalam merealisasikan niatnya, sehingga berusaha mencapai niat bersama dan mengelola ketergantungan rencana.

V - Visi = Pemikiran ke depan (forethought). Pemikiran ke depan bukan sekadar rencana untuk masa depan; mereka yang berpikir ke depan menggunakan visi (gambaran mental tentang masa depan) sebagai panduan yang memotivasi tindakan mereka saat ini, menjadikan mereka individu yang bersemangat dan memiliki tujuan.

A - Aksi = Kereaktifan-diri (self-reactiveness). Mereka yang memiliki agency bukan hanya perencana dan pemikir ke depan; mereka juga memiliki kemampuan pengendalian diri (self-regulation). Setelah memiliki niat dan rencana, mereka tidak tinggal diam tetapi menciptakan tindakan yang tepat dan mengatur eksekusinya dengan baik.

R - Refleksi = Kereflektifan-diri (self-reflectiveness). Individu yang memiliki agency memiliki kesadaran diri yang tinggi terhadap fungsi dirinya. Mereka melakukan refleksi untuk menilai efikasi diri, ketepatan pikiran, kualitas tindakan, serta relevansi dari usaha mereka dalam mencapai tujuan. Sifat metakognitif untuk melakukan refleksi dan mengevaluasi kecukupan pemikiran dan tindakan ini adalah ciri khas orang yang memiliki agency.


Istilah Student Agency

Karena kata agency belum memiliki padanan yang sesuai dalam bahasa Indonesia, untuk keperluan modul ini istilah student agency akan diterjemahkan sebagai "kepemimpinan murid."

Murid menunjukkan student agency saat mereka mampu mengelola pembelajaran mereka sendiri, mengambil keputusan, menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan dan menunjukkan rasa ingin tahu, berperan aktif dan berkontribusi dalam komunitas belajar, menyampaikan pemahaman mereka kepada orang lain, serta melakukan tindakan nyata sebagai hasil dari proses pembelajaran yang mereka jalani.


Student Agency OECD

Menurut OECD (2019:5), konsep 'kepemimpinan murid' terkait dengan penguatan identitas dan rasa kepemilikan dalam diri murid. Ketika murid membangun kemampuan agen diri (agency), mereka memanfaatkan motivasi, harapan, efikasi diri, serta pola pikir berkembang (growth mindset)—yakni pemahaman bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat dikembangkan—untuk mencapai kesejahteraan fisik dan mental. Hal ini memungkinkan murid untuk bertindak dengan tujuan yang jelas, membantu mereka tumbuh di lingkungan sosial mereka.

Kepemimpinan murid berakar pada keyakinan bahwa murid mampu dan terdorong untuk memengaruhi kehidupan mereka sendiri dan masyarakat di sekitarnya secara positif. Kepemimpinan ini melibatkan kemampuan untuk menetapkan tujuan, merefleksikan tindakan, dan berperilaku secara bertanggung jawab demi menciptakan perubahan. Kepemimpinan murid berarti murid aktif mengambil keputusan dan membuat pilihan yang bertanggung jawab, tidak sekadar menerima keputusan dari pihak lain. Ketika murid memiliki agency dalam pembelajaran, mereka menjadi lebih terlibat dalam menentukan apa dan bagaimana mereka belajar, sehingga motivasi belajar mereka meningkat, dan mereka dapat menetapkan tujuan pembelajaran mereka sendiri. Melalui proses ini, murid-murid akan secara alami mengembangkan keterampilan belajar yang akan mereka manfaatkan sepanjang hidup mereka.

Ketika murid berperan sebagai pemimpin dan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran mereka, hubungan antara guru dan murid bertransformasi menjadi kemitraan. Dalam hubungan kemitraan ini, murid yang belajar akan:

  • memahami tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
  • menunjukkan partisipasi aktif dalam proses belajar
  • menanggung tanggung jawab dalam pembelajaran mereka
  • menumbuhkan rasa ingin tahu
  • mengambil inisiatif
  • membuat pilihan-pilihan yang tepat
  • memberikan umpan balik kepada teman-teman sekelas.

Sementara itu, guru yang berperan sebagai mitra akan:

  • mendengarkan, menghormati, dan merespons ide, opini, serta aspirasi murid secara aktif
  • memperhatikan kemampuan, kebutuhan, dan minat murid untuk menyesuaikan proses belajar
  • mendukung eksplorasi minat murid dengan memberikan tugas terbuka
  • memberi kesempatan kepada murid untuk mengekspresikan kreativitas dan mengambil risiko
  • mempertimbangkan tingkat bantuan yang diperlukan murid berdasarkan informasi yang ada
  • menunjukkan ketertarikan dan minat dalam mendengarkan setiap aktivitas murid untuk memperluas wawasan mereka.

Posting Unggulan

SEHATI (Sekolah Bersih dan Indah Tangging Jawab Kita)

 

Paling Populer