JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
PENDIDIKAN CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 11
MODUL 2.1
PEMBELAJARAN
UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN BELAJAR MURID
UDIN JAENUDIN, S.Pd
SMAN 1 SURANENGGALA KABUPATEN CIREBON
Jurnal Refleksi dwi mingguan
ini dibuat untuk melengkapi salah satu tugas calon guru penggerak.
Sebagai calon guru penggerak saya akan merefleksikan seluruh rangkaian
kegiatan selama mempelajari modul 2.1 tentang Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid. Jurnal ini sebagai refleksi
diri setelah selama dua minggu ke-2 kebelakang yang ditulis secara rutin selama
dua mingguan sebagai tugas yang harus dikerjakan oleh calon guru penggerak.
Dalam menulis jurnal refleksi
ini saya menggunakan model 1 yaitu model 4F (Fact, Feeling, Findings, dan
Future, yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan
menjadi 4P yakni : Peristiwa; Perasaan; Pembelajaran; dan Penerapan.
1. Fact (Peristiwa)
Aktivitas
pada modul 2.1 dimulai pada tanggal 20 Agustus 2024. Pada modul 2, pembelajaran
dimulai dengan Pretest untuk mengukur pemahaman awal terkait materi ini. Proses
belajar mengikuti alur MERDEKA yang terdiri dari Mulai dari diri sendiri,
Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi
pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata. Langkah pertama adalah
persiapan mental dalam menyerap pengetahuan baru pada modul 2.1, dilanjutkan
dengan eksplorasi konsep yang telah dipelajari, diskusi dengan rekan CGP dalam
ruang kolaborasi untuk menyamakan persepsi dan memberikan masukan konstruktif
dalam menyusun rencana pembelajaran berdiferensiasi. Setelah itu, RPP
berdiferensiasi disusun secara mandiri dan diunggah ke LMS untuk mendapat umpan
balik dari sesama CGP dan fasilitator. Dalam elaborasi pemahaman, penguatan
diberikan oleh narasumber, kemudian materi dikaitkan dengan yang sudah
dipelajari sebelumnya, dan diakhiri dengan aksi nyata berupa penerapan
pembelajaran berdiferensiasi di kelas sesuai RPP yang telah dibuat.
2. Feeling (Perasaan)
Setelah
mempelajari modul 2.1, saya merasa sangat gembira dan semakin termotivasi untuk
menerapkan konsep tersebut di sekolah dan di kelas. Pembelajaran
berdiferensiasi membuat saya penasaran karena sebagai guru, saya perlu
memperlakukan siswa sesuai dengan karakteristik mereka masing-masing.
Sebelumnya, fokus saya lebih pada pencapaian materi kurikulum, sehingga tujuan
utama adalah menyelesaikan materi. Namun, ini seringkali mengabaikan fakta
bahwa setiap murid memiliki kebutuhan belajar yang beragam. Hal ini sejalan
dengan nilai-nilai filosofi KHD yang menekankan bahwa belajar adalah menuntun
murid mencapai tujuannya. Sebagai guru, kita tidak dapat memaksakan semua murid
untuk menempuh jalan yang sama, tetapi harus mampu menyediakan berbagai jalur
alternatif yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
3. Findings (Pembelajaran)
Pembelajaran
penting yang saya dapatkan setelah mempelajari modul 2.1 adalah bahwa setiap
murid memiliki keunikan masing-masing, mulai dari pengetahuan, cara belajar,
gaya belajar, hingga sikap dan keinginan. Pembelajaran berdiferensiasi
dirancang agar guru mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan belajar murid. Guru
perlu peka dalam menanggapi setiap kebutuhan belajar murid, dengan
memperhatikan kesiapan belajar, minat terhadap materi, dan profil belajar
murid. Dalam proses pembelajaran, guru juga perlu menerapkan strategi
diferensiasi konten, proses, dan produk. Sedangkan dalam penilaian, guru
menerapkan penilaian berjenjang. Dengan begitu, diharapkan semua murid memiliki
kesempatan yang sama untuk mengikuti pembelajaran, dan lingkungan belajar yang
aman dan nyaman dapat tercipta.
4. Future (Penerapan)
Setelah
mempelajari modul 2.1 mengenai Pembelajaran Berdiferensiasi, saya berkomitmen
untuk menerapkannya di kelas. Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat berjalan
efektif, perlu dilakukan pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan,
minat, dan profil belajar mereka. Hal ini akan membantu guru menentukan
perbedaan dalam konten, proses, dan produk pembelajaran. Salah satu cara untuk
melakukannya adalah dengan menggunakan asesmen diagnostik non-kognitif. Data
pemetaan dapat diperoleh dari data murid pada tahun atau semester sebelumnya,
melalui angket, pengamatan, atau wawancara dengan rekan guru dan wali murid.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar