Powered By Blogger

Sabtu, 31 Agustus 2024

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.1 ( CGP Angkatan 11 )

 



JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN PENDIDIKAN CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 11

MODUL 2.1

PEMBELAJARAN UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN BELAJAR MURID

UDIN JAENUDIN, S.Pd

SMAN 1 SURANENGGALA KABUPATEN CIREBON

 

Jurnal Refleksi dwi mingguan ini dibuat untuk melengkapi  salah satu tugas calon guru penggerak. Sebagai calon guru penggerak saya akan merefleksikan  seluruh rangkaian kegiatan selama mempelajari modul 2.1 tentang Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid. Jurnal ini sebagai refleksi diri setelah selama dua minggu ke-2 kebelakang yang ditulis secara rutin selama dua mingguan sebagai tugas yang harus dikerjakan oleh calon guru penggerak.

Dalam menulis jurnal refleksi ini saya menggunakan model 1 yaitu model 4F (Fact, Feeling, Findings, dan Future, yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P yakni : Peristiwa; Perasaan; Pembelajaran; dan Penerapan.

 1.      Fact (Peristiwa)

Aktivitas pada modul 2.1 dimulai pada tanggal 20 Agustus 2024. Pada modul 2, pembelajaran dimulai dengan Pretest untuk mengukur pemahaman awal terkait materi ini. Proses belajar mengikuti alur MERDEKA yang terdiri dari Mulai dari diri sendiri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata. Langkah pertama adalah persiapan mental dalam menyerap pengetahuan baru pada modul 2.1, dilanjutkan dengan eksplorasi konsep yang telah dipelajari, diskusi dengan rekan CGP dalam ruang kolaborasi untuk menyamakan persepsi dan memberikan masukan konstruktif dalam menyusun rencana pembelajaran berdiferensiasi. Setelah itu, RPP berdiferensiasi disusun secara mandiri dan diunggah ke LMS untuk mendapat umpan balik dari sesama CGP dan fasilitator. Dalam elaborasi pemahaman, penguatan diberikan oleh narasumber, kemudian materi dikaitkan dengan yang sudah dipelajari sebelumnya, dan diakhiri dengan aksi nyata berupa penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas sesuai RPP yang telah dibuat.

  2.      Feeling (Perasaan)

Setelah mempelajari modul 2.1, saya merasa sangat gembira dan semakin termotivasi untuk menerapkan konsep tersebut di sekolah dan di kelas. Pembelajaran berdiferensiasi membuat saya penasaran karena sebagai guru, saya perlu memperlakukan siswa sesuai dengan karakteristik mereka masing-masing. Sebelumnya, fokus saya lebih pada pencapaian materi kurikulum, sehingga tujuan utama adalah menyelesaikan materi. Namun, ini seringkali mengabaikan fakta bahwa setiap murid memiliki kebutuhan belajar yang beragam. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai filosofi KHD yang menekankan bahwa belajar adalah menuntun murid mencapai tujuannya. Sebagai guru, kita tidak dapat memaksakan semua murid untuk menempuh jalan yang sama, tetapi harus mampu menyediakan berbagai jalur alternatif yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

3.      Findings (Pembelajaran)

Pembelajaran penting yang saya dapatkan setelah mempelajari modul 2.1 adalah bahwa setiap murid memiliki keunikan masing-masing, mulai dari pengetahuan, cara belajar, gaya belajar, hingga sikap dan keinginan. Pembelajaran berdiferensiasi dirancang agar guru mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan belajar murid. Guru perlu peka dalam menanggapi setiap kebutuhan belajar murid, dengan memperhatikan kesiapan belajar, minat terhadap materi, dan profil belajar murid. Dalam proses pembelajaran, guru juga perlu menerapkan strategi diferensiasi konten, proses, dan produk. Sedangkan dalam penilaian, guru menerapkan penilaian berjenjang. Dengan begitu, diharapkan semua murid memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti pembelajaran, dan lingkungan belajar yang aman dan nyaman dapat tercipta.

 4.      Future (Penerapan)

Setelah mempelajari modul 2.1 mengenai Pembelajaran Berdiferensiasi, saya berkomitmen untuk menerapkannya di kelas. Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat berjalan efektif, perlu dilakukan pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan, minat, dan profil belajar mereka. Hal ini akan membantu guru menentukan perbedaan dalam konten, proses, dan produk pembelajaran. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan menggunakan asesmen diagnostik non-kognitif. Data pemetaan dapat diperoleh dari data murid pada tahun atau semester sebelumnya, melalui angket, pengamatan, atau wawancara dengan rekan guru dan wali murid.

 

 




 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Unggulan

SEHATI (Sekolah Bersih dan Indah Tangging Jawab Kita)

 

Paling Populer